31. Jumlah RW. 4. Lariangbangi atau Lariang Bangi adalah nama sebuah kelurahan di Kecamatan Makassar, Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Kelurahan ini memiliki luas wilayah 0,26 km², yang terdiri dari 31 RT dan 4 RW. Secara astronomis, kelurahan ini berada pada titik koordinat 5°08'18.70" LS dan 119°25'21.10" BT. Bekas pusat wilayah Kerajaan Siang, SengkaE - sekarang ini terletak di Desa Bori Appaka, Kecamatan Bungoro, Pangkep - telah dikunjungi oleh kapal-kapal Portugis antara tahun 1542 dan 1548. (M Ali Fadhillah, 2000). Pelras mengemukakan bahwa selama masa pengaruh Luwu di semenanjung timur Sulawesi Selatan, kemungkinan dari Abad X hingga Abad Kehidupan masyarakat desa dipimpin oleh kepala desa. Sebutan untuk kepala desa juga sangat beragam. Di Kalimantan Timur, kepala desa disebut Kepala Kampung atau Petinggi; di Madura, kepala desa disebut Klebun; di Kalimantan Selatan, kepala desa disebut Pambakal; dan di Sulawesi Utara, kepala desa disebut Hukum Tua. Desa ini seringkali juga disebut sebagai Desa Bebatuan, karena hampir seluruh permukaan tanah di desa ini berasal dari batu kapur, bro. Kebanyakan warga di sini bermata pencaharian sebagai petani kopi dan sayuran. Palari (perahu) Palari dengan layar pinisi, Sulawesi barat, 1923-1925. Palari adalah salah satu jenis kapal layar Indonesia dari Sulawesi Selatan. Terutama digunakan oleh orang-orang Ara dan Lemo Lemo, untuk mengangkut barang dan orang. Kapal ini dilengkapi dengan sistem layar pinisi, yang sering membuatnya lebih dikenal dengan nama "pinisi". Selanjutnya marakka' bola, tradisi ini adalah yang paling unik, merupakan tradisi gotong royong memindahkan rumah pada Masyarakat Bugis Barru, Sulawesi Selatan. Tradisi gotong royong di tengah masyarakat Desa Lalabata, Kecamatan Tanete Rilau, Kabupaten Barru tersebut ini masih kerap dilakukan dan diturunkan kepada generasi selanjutnya hingga Dengan pola yang sama, operasi pembantaian rakyat di Sulawesi Selatan berjalan terus. Westerling juga memimpin sendiri operasi di desa Tanjung Bunga pada malam tanggal 12 menjelang 13 Desember 1946. 61 orang ditembak mati. Selain itu beberapa kampung kecil di sekitar desa Tanjung Bunga dibakar, sehingga korban tewas seluruhnya mencapai 81 orang. 5hfG.

di sulawesi selatan desa disebut